Total Pengunjung

Follow by Email

Lokasi Kami:

Text Widget

Download

Hubungi Kami

CV. Susun Bentang Alam
Jl. Muhajirin, Perum Anugerah Regency
Arengka 1, Kota Pekanbaru 28293
HP/WA : 0813 6549 6595
Email : admin@susunbentangalam.co.id;
cvsba.pekanbaru@gmail.com
Website: https://www.susunbentangalam.co.id

Unordered List

Recent Posts


Senin, 09 Juli 2018

Kesalahan dalam Leaf Sampling Unit - LSU

leaf sampling unit
SUSUN BENTANG ALAM. Leaf sampling unit (LSU) dengan arti dalam bahasa indonesia adalah kesatuan contoh/sampel daun (KCD). LSU atau KCD adalah sekumpulan sampel daun yang diperoleh dari beberapa tanaman kelapa sawit dibeberapa lokasi yang mewakili kondisi seluruh tanaman yang ada di perkebunan kelapa sawit. Ada banyak tujuan dari pengambilan LSU atau KCD diantaranya untuk memantau kualitas tanaman, mengidentifikasi gejalah defisiensi unsur hara, mengidentifikasi adanya serangan hama dan penyakit tanaman, memberikan rekomendasi pemupukan dan masih banyak lagi. 

Kunci suksesnya dari kegiatan LSU atau KCD adalah penentuan pelepah ke-17. Kenapa demikian? apabila pelepah yang kita ambil adalah pelepah muda (<17) maka jika dilakukan analisa laboratorium, unsur hara yang dihasilkan memiliki nilai yang tinggi. Namun sebaliknya apabila pelepah yang diambil adalah pelepah tua (>17) maka hasil analisa laboratorium pada unsur hara adalah rendah. Hal tersebut berdampak pada salahnya pengambilan keputusan dalam rekomendasi pemupukan.

Artikel ini tidak membahas mengenai dasar-dasar LSU atau KCD tetapi mengulas sedikit mengenai kesalahan yang sering dilakukan pada program LSU atau KCD. Adapun kesalahan yang sering dilakukan selain salahnya penomoran pelepah:

1. Kompetensi petugas pengambil sampel

Personel yang melakukan pengambilan sampel daun sebaiknya harus memiliki kompetensi khusus. Memang terbilang aneh karena hanya sebagai pertugas pengambilan sampel harus ada kompetensi khusus. Secara mendasar setiap personel yang menjadi pertugas pengambil sampel harus memiliki sertifikasi khusus mengingat bahwa sampel yang diambil merupakan bahan dalam mengambil data. Data yang diperoleh nantinya akan dijadikan sebagai penentu kebijakan pemupukan yang akan dilakukan.

2. Pohon yang diambil berada dekat dengan jalan, sungai, parit, jurang, danau dan lainnya

Banyak diantara kita, terutama apabila bekerja tanpa adanya pengawasan dari supervisor (mandor) melakukan pekerjaan yang sudah tidak sesuai dengan SOP yang disepakati. Pohon yang diambil dekat dengan fasilitas atau batas alam tersebut sebenarnya berdampak pada tidak seragamnya kualitas tanaman. Karena biasanya tanaman yang tumbuh dekat dengan jalan, daunnya akan sering terkontaminasi dengan debu dan gas buang kendaraan sehingga data yang kita hasilkan dari analisa laboratorium menjadi bias (jauh dari nilai benar). Selain itu  tanaman yang tumbuh dekat dengan sungai, parit, jurang atau danau biasanya tingkat pencucian hara terjadi sangat tinggi sehingga kualitas pohon tidak mewakili dari sekumpulan tanaman yang ada.

3. Cuaca hujan

Pada saat hujan, biasanya tanaman akan menyerap air dibagian mulut stomata, selain itu zat-zat yang terlarut dalam air hujan akan menempel pada permukaan daun sehingga proses pengambilan sampel pada saat hujan sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Selain itu, bahaya tersambar petir pun menghampiri petugas pengambil sampel atau adanya pohon tumbang.

4. Pengambilan dilakukan berdekatan setelah pemupukan

Pada saat setelah (2 atau 3 hari setelah pemupukan) biasanya unsur hara di daun akan lebih tinggi dari biasanya, hal ini karena masih adanya proses transfer nutrisi pada serabut (urat) pohon masih sangat tinggi terjadi. Nutrisi tersebut belum menjadi penyusun jaringan tumbuhan melainkan masih dalam tahap sintesis.

5. Pohon yang dijadikan sebagai pohon sampel adalah pohon sakit

Pohon sakit atau terserang hama atau penyakit genetik lainnya, biasanya ketidakseimbangan nutrisi sangat mungkin terjadi. Hal ini karena terganggunya sistem metabolisme tumbuhan yang disebabkan oleh adanya gangguan secara internal atau eksternal. Sungguh sangat fatal apabila pohon  seperti ini dijadikan sebagai pohon contoh karena nantinya acuan rekomendasi pemupukan yang dibuat akan berdasarkan dari data yang diambil dari sampel pohon sakit.

6. Sampel atau pelepah yang diambil menyentuh tanah

Pada saat proses pengambilan sampel, sering tidak memperhatikan posisi pelepah yang menyentuh  tanah. Memang pada saat pelepah itu jatuh dari pohon pasti akan menyentuh tanah karena akan cukup berbahaya jika kita tangkap. Namun sebisa mungkin minimalkan kontak antara daun dengan tanah. Hal ini akan menyebabkan adanya kontaminasi dari tanah sehingga data yang dihasilkan menjadi menyimpang. terlebih lagi apabila sampel tidak dibersihkan oleh akuades atau alkohol.

7. Sampel jarang / tidak dibersihkan dengan akuades atau alkohol

Pembersihan sangat penting untuk dilakukan karena pada tahap ini,semua pengotor yang menempel di permukaan daun (sampel) menjadi kontaminan pada proses analisa sampel di laboratorium. Terkadang ada petugas pengambil sampel yang tidak pernah membersihkan sampel daunnya dengan akuades atau alkohol. Sebenarnya ini jangan dilakukan karena akan berdampak besar terhadap data yang dihasilkan. Memang jika dikaji lebih dalam terhadap data yang dihasilkan bahwa antara data yang dihasilkan dari sampel yang dibersihkan dan tidak dibersihkan tidak berbeda secara nyata. Tetapi ada beberapa parameter yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi seperti Nitrogen (N) dan Fosfor (P). Selain itu hal tersebut mencerminkan konsistensi kita dalam menjalankan SOP yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.

Demikian penjelasan mengenai kesalahan yang sering terjadi pada proses pengambilan sampel daun terutama daun kelapa sawit.

Salam.
Admin

You can contact to : admin@susunbentangalam.co.id 

Tidak ada komentar:
Write komentar

Tinggalkan Pesan Jika Ingin Berkonsultasi

Tertarik untuk mengetahui informasi terbaru tentang CV. Susun Bentang Alam?
Silahkan tinggalkan alamat emai!